An Open Letter

surat terbuka

Dear Muhammad Syoiful Bachri dkk

Sebelum sampai ke isi suratnya, ada baiknya baban jelaskan dulu bah, kenapa harus surat, kenapa harus terbuka, kenapa harus buat jenengan, dan kenapa harus di Line.

Dijawab satu-satu tentu bikin lama, tapi pelan-pelan saja, yang pertama dan yang utama. Kenapa harus surat terbuka. Baban kira sudah lama orang gak menulis surat. Pak Pos sudah lama mati dibabat layanan pesan singkat dari telepon genggam atau pesan blackberry yang mekar hanya sebentar.

Tapi jangan khawatir, blackberry mati, line, whatsapp dan aplikasinya lainnya bersemi. Bahkan layanan Line berhasil mempersatukan kembali Rangga dan Cinta yang terpisah satu purnama yang di New York belasan tahun lamanya. Itu mengapa baban memilih Line berharap di purnama lainnya masih punya kesempatan bertemu jenengan, saipul dan bryan.

Pertama-tama baban ingin mengucapkan selamat atas lulusnya jenengan dari Sampoerna, kedua selamat juga atas kesempatan yang diterima untuk mengenyam pendidikan di negeri Muhammad al Fatih penakluk konstantinopel yang gaungnya masih terasa hingga sekarang.

Jujur baban kagum dengan keputusan jenengan. Saat alumni sampoerna berlomba-lomba mencari tempat terbaik yang mampu membayar lebih dalam bekerja, jenengan dengan selow malah pergi ke Ottoman. Saat kami berlomba mengais rezeki di Indonesia, jenengan malah asyik membaca kitab kuning, hadist dan ayat-ayat di sana.

Sejenak baban berpikir apa jenengan ndak mikir untuk mencari rezeki? Mumpung masih muda bah, masih seterong, masih cihuy kan lebih gampang cari duit buat bekal kawin, bekal ambil KPR, bekal naik haji dll.

Namun setelah cukup lama berpikir kembali melewati batas kelurusan dan kekakuan, karena mencerna idealisme seseorang itu sama sulitnya memaknai perkataan wanita seperti tulisan baban sebelumnya.

Bahwa rezeki itu bukan hanya sekedar uang, duit, heppeng, dinero, para, dhuwit dll. Namun arti rezeki yang hakiki adalah ketika mampu membahagiakan hati sesama. Seperti yang pernah para pinisepuh tanah Jawa sampaikan tentang petunjuk mencari rezeki yang disusupkan dalam tembang-tembang, dalam serat-serat dan kidung-kidung Jawa kuno. Sayangnya, anak muda jaman gadget, makin jauh dengan yang begituan. Coba tanya Lukman Hakim yang wong jowo tulen bisa nggak dia nembang dhandanggulo, prediksi baban kok gak bisa ya haha, ampun pakde

Sunan Prawata, Raja Demak yang ke-4 kalo gak salah pernah menulis makna rezeki sesungghunya dalam Serat Rerepen. Dalam Serat tersebut, Sunan prawata juga mention kunci mendapatkan rezeki yang hakiki yakni dengan bersikap Karyenak Tyasing Sesama, atau dapat membahagiakan hati sesama.

Jika itu dilakukan, masih menurut serat itu, rejeki kita akan mbanyu mili alias seperti air mengalir. Kalau air menggenang itu tempatnya penyakit. Air yang menggenang di penampungan bisa jadi sarang jentik nyamuk yang bernama cantik namun berbahaya, Aedes Aegepty. Tapi, kalau air mengalir tentunya akan membawa kebaikan dan manfaat buat sesamanya.

Jadi sob, teruslah bersikap Karyenak Tyasing Sesama, menjadi CEO (Chief Entertaiment Officer) yang terus menghibur banyak orang. Menghibur bukan hanya dari lawakan garing tapi juga hiburlah kami dengan siraman ilmu yang bermanfaat terutama tentang kerohanian yang saat ini jarang kami dapatkan.

Sukses terus untuk studynya, salam untuk melek, ipek, elif dkk, kami (penghuni toku house, widi & orang yang pernah dekat dengan jenengan) tunggu di purnama berikutnya.

beasiswa turki

Related posts

Leave a Comment