Masyarakat dan Perubahan Iklim yang Ekstrim

Perubahan Iklim

Entah sudah berapa banyak artikel yang membahas tentang isu Perubahan Iklim.

Hampir setiap hari kita disuguhkan dengan berita yang membahas isu tersebut.

Baik itu dari media cetak, televisi, radio maupun internet.

Inti semua beritanya sama, yakni mengajak masyarakat untuk mencegah isu perubahan iklim yang berlangsung sangat ekstrim pada akhir akhir decade ini.

Musim hujan dan kemarau sudah tidak dapat diprediksi.

Nama bulan yang berakhiran “ber” (September, Oktober, November, Desember) tidak lagi mempunyai arti sebagai bulan yang penuh air alias musim penghujan.

Contohnya seperti saat ini, walaupun sudah memasuki bulan februari – maret namun musim hujan masih berlangsung.

Padahal bila kita rewind 2-3 dekade kebelakang, bulan februari – maret adalah bulannya para petani untuk mulai beralih mananam tanaman palawija.

Karena pada bulan tersebut curah hujan sudah mulai berkurang, dan kebanyakan sawah di Indonesia masih bersistem tadah hujan yang sangat tergantung pada hujan sebagai sumber pengairan.

Namun nampaknya sekarang para petani harus mencari penanggalan baru untuk musim tanamnya akibat perubahan iklim yang terjadi akhir akhir ini.

Bayangkan bila hal ini terjadi secara terus menerus.

Para petani akan mengalami gagal panen secara berlanjut akibat sistem tanamnya yang masih tradisional serta perubahan iklim yang terjadi secara ekstrim.

Akibat dari gagal panen tersebut tentu akan berdampak pula pada cadangan makanan nabati yang dihasilkan oleh para petani.

Dimana mana kan terjadi kelangkaan makanan yang bersumber nabati seperti beras, gandum, sagu, kentang dan lain lain.

Bukan hanya berdampak pada keseimbangan pangan manusia.

Tetapi akan ada banyak hal hal ekstrim yang dapat disebabkan oleh perubahan iklim.

Salah satunya adalah peningkatan volume air laut.

Dapatkah kalian membayangkan bila suatu saat nanti bumi akan dipenuhi oleh lautan ?

Tidak ada daratan untuk tempat kita berinteraksi, bersosialisasi dan beraktifitas seperti biasa.

Bukan bermaksud untuk menakut nakuti.

Tetapi hal tersebut memang real akan terjadi bila para manusia yang hidup saat ini tidak mengantisipasi isu perubahan iklim yang terjadi.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Inter Panel Climate Change (IPCC) telah terjadi kenaikan permukaan air sebanyak 0,17 cm dalam kurun waktu 155 tahun ( 1850 – 2005 ) dengan rata rata kenaikan air permukaan laut 1,8 mm setiap tahunnya.

Itu berarti dalam 65 tahun kedepan, air permukaan laut di bumi akan mengalami peningkatan setinggi 60 cm.

Prediksi itu mungkin bisa terjadi lebih cepat jika perubahan iklim yang terjadi pada saat ini tidak dapat diatasi.

Untuk mengatasi permasalahan isu perubahan iklim tersebut diperlukan adanya kesadaran dan tindakan nyata dari setiap individu untuk mau turut serta dalam menanggulanginya.

Menurut  IPCC factor utama dalam terjadinya perubahan iklim secara global adalah aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan, seperti pembakaran hutan dan pembakaran bahan bakar minyak untuk pabrik dan kendaraan bermotor yang menghasilkan asap dan gas beracun.

Asap dan gas tersebut akan menghasilkan peningkatan konsetrasi gas co2 dan gas lainnya di atmosfer yang menimbulkan efek rumah kaca.

Akibatnya sinar matahari yang masuk terperangkap oleh gas co2 dan gas lainnya di atmosfer bumi.

Sinar matahari yang terperangkap dibumi secara terus menerus akan meningkatkan suhu bumi.

Ketika suhu bumi menigkat maka cadangan air bumi yang tersimpan dalam bentuk es dikutub utara dan selatan akan mencair.

Mencairnya cadangan air tersebut akan menambah volume air dibumi berjuta juta bahkan bermilyaran liter.

Volume air yang berlebihan tersebutlah yang akan merendam banyak pulau dan daratan dibumi yang berada di bawah permukaan laut, termaksud Jakarta.

Bahkan menurut Departemen Kelautan dan Perikanan dalam kurun waktu 2 tahun yakni dari tahun 2005 -2007, sebanyak 24 pulau di Indonesia telah tenggelam akibat meningkatnya volume laut, yakni 7 pulau di Kepulaun Seribu (Jakarta), 5 pulau di Riau, 3 pulau Aceh, Sumatera Utara dan Papau dan 1 pulau di Sulawesi Selatan.

Tentu kita semua tidak ingin kejadian seperti ini terus berlangsung bukan ?

Oleh karena itu, apa yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya perubahan iklim ?

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya perubahan iklim, yaitu :

1.       Hemat Listrik.

Menghemat listrik adalah hal yang paling mudah dilakukan untuk mencegah terjadinya perubahan iklim. Coba kurangi pemakaian listrik dirumah, dikantor, disekolah, dikampus atau dimanapun tempat aktifitas kalian. Contoh paling sederhana adalah dengan mematikan lampu ruangan yang banyak terkena sinar matahari dan ruangan yang kosong (tidak terpakai). Mematikan kran air yang tidak terpakai, membuka jendela untuk mengurangi pemakaian AC dan hal lain yang menurut kalian paling mudah untuk dilakukan dalam menghemat listrik.

2.       Menanam pohon

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa salah satu factor yang ikut andil dalam perubahan iklim adalah peningkatan gas co2. Dan seperti yang kita ketahui pula bahwa tumbuhan atau pohon mengirup co2 untuk proses fotosintesis yang nantinya akan diolah menjadi oksigen atau o2. Oleh sebab itu, menanam pohon menjadi salah satu jalan yang dapat dilakukan untuk mengatasi terjadinya perubahan iklim.

3.       Beralih ke transportasi public

Di point kedua telah disinggung bahwa salah satu factor penyebab perubahan iklim adalah peningkatas gas co2 serta gas gas lain yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Maka dari itu penting bagi kita untuk mengurangi pemakaian kendaraan  motor pribadi untuk mengurangi jumlah gas co2 di atmosfer. Cobalah beralih ke transportasi public. Dengan cara itu kita telah ikut berpartisipasi dalam mengatasi isu perubahan iklim serta isu keterbatasan sumber energi cadangan minyak bumi.

4.       Recycle

Mendaur ulang atau me-recycle benda yang tak lagi berguna juga dapat membantu mengurangi permasalahan perubahan iklim. Contoh mudah dalam me-recycle adalah dengan membuang sampah sesuai kategorinya. Contoh sampah kaleng dan botol dipisahkan dengan sampah rumah tangga kemudian dibuang sesuai kategori tempat sampahnya. Hal itu akan membantu para pengolah sampah dalam mendaur ulang tanpa harus memisahkan kembali sampah kering dan sampah rumah tangga. Dan jangan buang sampah sembarangan seperti video Si Kampret di bawah ini ya, selain hal tersebut dapat merusak pemandangan dan lingkungan, membuang sampah sembarangan tanpa me-recycle dapat juga menambah Climate Change yang lebih ekstrem di masa mendatang. Mari kita meniru perbuatan Si Pacul yang melakukan aksi nyata dalam mengatasi isu perubahan iklim dengan membuang sampah pada tempatnya dan juga me-recyclenya.

[vimeo 60454800 w=400 h=300]

Keempat hal diatas adalah beberapa cara mudah yang dapat dilakukan untuk mengatasi isu perubahan iklim.

Semoga banyak diantara kita yang mau mengaplikasikan ketiga hal mudah tersebut dalam kehidupan sehari hari.

Ayo bantu si Pacul mengkampanyekan isu perubahan iklim dengan melakukan tindakan nyata untuk membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan.

Related posts

Leave a Comment