Tempat Corat-Coret Dikala Senggang

Selalu Merasa Dirimu Nggak Berhak atas Pujian? Hmm… Bisa Jadi Jenengan Terkena Sindrom Impostor

Pernah nggak Kamu merasa nggak berhak mendapatkan semua yang sudah jenengan capai saat ini? Misalnya ada orang yang memuji, “Ih, Kamu kok pinter banget sih kalau ngomongin soal ternak lele,” dan jenengan merasa, “Apa sih, aku tuh biasa aja. Karena cuma sering makan pecel lele cak iwan aja ini.

Pendeknya, jenengan selalu merasa bahwa Kamu nggak sehebat orang lain. Eeittss… jangan merasa gitu lagi ya. Padahal menurut orang banyak, Kamu itu memang bisa dan hebat kok, tapi kenapa jenengan nggak pernah merasa seperti itu.

Jangan kaget ya. Ada kemungkinan karena Kamu itu mengidap sindrom penyemu atau impostor syndrome.

Sindrom impostor itu menyebabkan orang-orang yang berhasil mencapai sesuatu merasa bahwa itu dicapai dengan faktor eksternal, bukan dari internal. Mereka merasa bahwa orang lain selalu lebih pintar dari dirinya, dan dirinya hanyalah debu tak berarti di semesta. Orang-orang yang mengidap sindrom ini akan merasa bahwa hanya kebetulanlah mereka sampai di titik saat ini, dan tak sanggup mengakui potensi yang ada dalam diri.

Baca juga:  Padahal Tak Ada Bagusnya, Kenapa ada KaTa Good Dalam Kata Goodbye?

Bedakan dengan orang yang rendah hati lho ya. Kalau orang rendah hati mungkin merendah karena sadar di atas langit masih ada langit. Kalau orang dengan sindrom impostor ini benar-benar tidak bisa melihat dirinya pantas meraih itu semua. Ia akan selalu merasa bahwa semua orang akan selalu di atasnya.

Memang, cara berpikir seperti itu bagus untuk membuat orang jadi nggak gampang sombong. Tapi, sindrom ini ada menimbulkan efek tak baik ke diri sendiri loh. Orang yang tidak bisa mengakui hal baik dalam dirinya akan merasa selalu tertekan, meski dirinya sebenarnya baik-baik saja. Jika mereka berhasil mencapai sesuatu, mereka merasa takut bahwa keberhasilan itu dicapai dengan cara menipu orang atau keberuntungan semata.

Ketakutan akan kegagalan mencapai di level yang tidak wajar bagi pengidap sindrom impostor. Mereka takut pencapaian mereka sebelumnya dianggap sebagai hasil yang dicapai dengan cara yang tidak wajar, dan kegagalan adalah bukti kualitas mereka sebenarnya.

Mengapa orang bisa punya sindrom impostor? Berdasarkan hasil penelusuran saya, penyebabnya sering datang dari tekanan yang terus-terusan diberikan dan juga kurangnya apresiasi selama masa kanak-kanak. Ekspektasi berlebihan orang tua, katakanlah. Biasanya ekspektasi orang tua yang berlebihan membuat orang tua tidak bisa menghargai kemajuan kecil yang dicapai anaknya. Lingkungan kerja dan sosial yang penuh tekanan juga memberi porsi pengaruh yang besar kepada individu yang terkena sindrom tersebut.

Baca juga:  Honda Jazz, Artefak Lucu Buruan Kolektor Otomotif

Demi kesehatan mental, jika jenengan merasa mengidap sindrom ini, sebaiknya mulailah membuat daftar pencapaian diri dan merenungkan kerja kerasmu untuk mencapai hal tersebut. Berbicara dengan ahli medis juga bisa membantu meringankan efek-efek yang timbul.

Terapi menulis pun bisa membantu orang mengurangi rasa bersalah yang timbul. Terapi menulis ini metodenya dengan menuliskan semua pencapaian dan umpan balik positif yang diterima. Mereka menuliskan hal-hal positif yang ada di diri mereka agar mereka mulai bisa menerima diri mereka sendiri.

Terakhir, jika jenengan menemukan teman yang bau-baunya mengidap sindrom impostor, ajak deh dia ngobrol. Beri dia apresiasi. Katakan bahwa dia pantas untuk mendapat ini semua.

Be kind, it could save a life.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *